Seorang detektif yang menderita amnesia dan harus menyelesaikan kasus pembunuhan yang ternyata melibatkan dirinya sendiri.

Aku terbangun di sebuah kamar hotel yang tidak kukenal. Aku merasa pusing dan bingung. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi, tapi aku tidak bisa. Aku tidak tahu siapa aku, di mana aku, atau mengapa aku di sini.

Aku melihat sekeliling kamar. Ada sebuah tas hitam di atas meja, sebuah pistol di bawah bantal, dan sebuah lencana polisi di saku celana. Apakah aku seorang polisi? Apakah aku sedang dalam sebuah misi? Apakah ada bahaya yang mengancamku?

Aku membuka tas hitam. Di dalamnya ada sebuah laptop, sebuah ponsel, dan beberapa dokumen. Aku menyalakan laptop dan melihat layarnya. Ada sebuah file bernama “Laporan Kasus Pembunuhan”. Aku membuka file itu dan membaca isinya.

Menurut laporan itu, aku adalah seorang detektif bernama Rizal yang sedang menyelidiki kasus pembunuhan berantai yang melibatkan lima korban wanita.

Korban-korban itu ditemukan tewas dengan luka tusukan di leher dan perut, dan ada sebuah kartu nama dengan huruf “R” di dekat mayat mereka. Pelakunya belum diketahui, tapi diduga memiliki motif balas dendam terhadap wanita-wanita yang pernah menyakitinya.

Aku merasa ngeri membaca laporan itu. Apakah aku sedang mengejar pembunuh berantai itu? Apakah aku berhasil menemukan petunjuk atau bukti? Apakah aku dekat dengan kebenaran?

Aku mengambil ponsel dari tas hitam. Aku melihat daftar kontaknya. Ada beberapa nama yang tidak kukenal, seperti Andi, Budi, Cici, dan Dina. Siapa mereka? Apakah mereka teman atau musuhku?

Aku memutuskan untuk menelepon salah satu dari mereka. Aku memilih nama Andi dan menekan tombol panggil.

“Halo, Rizal?” suara di seberang sana berkata.

“Halo, Andi?” aku balik bertanya.

“Ya, ini Andi. Kamu di mana? Kenapa tidak ada kabar?”

“Aku…aku tidak tahu. Aku sedang di sebuah kamar hotel.”

“Kamar hotel? Hotel mana?”

“Aku juga tidak tahu. Aku tidak ingat apa-apa.”

“Apa? Kamu tidak ingat apa-apa? Kamu amnesia?”

“Sepertinya begitu.”

“Ya Tuhan…kamu baik-baik saja? Kamu tidak terluka?”

“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing.”

“Syukurlah…kamu harus segera keluar dari sana. Aku akan menjemputmu.”

“Kenapa? Ada apa?”

“Kamu tidak tahu? Kasus pembunuhan berantai itu sudah terungkap.”

“Terungkap? Siapa pelakunya?”

“Anda tidak percaya kalau aku bilang…”

“Bilang saja!”

“Pelakunya adalah kamu, Rizal!”

***

Note:
Cerita di atas dibuat ole Bing AI, dengan Prompt: Bing, tolong saya diberikan contoh sebuah cerpen 1000 kata yang mengandung dengan premis ” Seorang detektif yang menderita amnesia dan harus menyelesaikan kasus pembunuhan yang ternyata melibatkan dirinya sendiri.” dengan batasan sbb: Mengandung motivasi yang kuat, memiliki konflik terpusat yang jelas, dengan menggunakan teknik narasi yang kuat, dan akhir cerita yang menggugah. Please, Bing

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *