Indonesia Darurat Kekerasan Seksual

Sederet kasus kekerasan seksual menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki masalah serius dalam hal kekerasan seksual. Laporan dari Catatan Tahunan Kekerasan Seksual di Indonesia 2022 yang diterbitkan oleh Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI) Fakultas Hukum Universitas Indonesia meyebutkan dari 2.648 kasus kekerasan seksual yang ditangani oleh kepolisian dan pengadilan pada tahun 2022, 87 persen di antaranya menimpa perempuan dan 13 persen di antaranya menimpa laki-laki. Kasus kekerasan seksual ini, tentunya lebih banyak menimpa perempuan dibanding pria.

Selain itu disebutkan  73 persen kasus kekerasan seksual terjadi di Pulau Jawa, Sumatera 13 persen, Papua 5 persen, Bali­NTB­NTT 4 persen, Sulawesi 3 persen dan Kalimantan 2 persen. Kasus kekerasan seksual yang terjadi di masyarakat, cukup tinggi. Laporan tersebut juga mencatat bahwa korban kekerasan seksual paling banyak adalah anak-anak, dengan persentase 77,6 persen. Korban kekerasan seksual dewasa mencapai 22,4 persen, di mana 58,9 persen adalah perempuan dewasa dan 13,5 persen adalah laki-laki dewasa.

Disebutkan pula, kekerasan seksual paling besar terjadi di rumah yakni 37 persen. Maka disimpulkan, bahwa tindakan kekerasan kerap dilakukan orang­orang terdekat korban. Sedangkan, kekerasan seksual yang terjadi di sekolah sekitar 11 persen dan 10 persen di hotel.

Selain itu masih banyak kasus dimana orang tua menikahkan anak yang baru berusia 10 tahun. Fakta ini menunjukkan anak dipaksa untuk melakukan hubungan seksual, dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya, kehilangan waktu bermain, dan kehilangan kesempatan belajar.

Belum lagi tuntas membicarakan kasus kekerasan seksual pada anak yang menjadi korban pedofil, kemudian sejumlah kasus pemerkosaan terhadap anak terus terungkap. Kondisi ini pun semakin menguatkan asumsi bahwa Indonesia memang benar­benar dalam kondisi darurat kekerasan seksual.

Kasus kekerasan seksual di Indonesia sangat beragam dan kompleks. Kasus kekerasan seksual dapat terjadi di mana saja, kepada siapa saja, dan dengan modus yang beragam. Berikut adalah beberapa contoh kasus kekerasan seksual yang variatif dan kompleks:

  1. Kekerasan seksual yang terjadi di rumah, yang dilakukan oleh orang-orang terdekat korban, seperti orang tua, saudara kandung, atau pasangan.
  2. Kekerasan seksual yang terjadi di ruang publik, seperti di jalan, transportasi umum, atau tempat kerja.
  3. Kekerasan seksual yang terjadi di internet, seperti pelecehan seksual secara online atau penyebaran konten pornografi anak.

Modus kekerasan seksual juga semakin canggih, sehingga membuat korban lebih sulit untuk mengenali dan menghindarinya. Beberapa modus kekerasan seksual yang canggih antara lain:

  1. Pemanfaatan media sosial untuk mendekati korban, seperti dengan mengirim pesan atau gambar yang bersifat seksual.
  2. Penyalahgunaan kekuasaan atau pengaruh untuk memaksa korban melakukan hubungan seksual.
  3. Pemberian obat-obatan atau minuman keras untuk membuat korban tidak sadar dan tidak berdaya.

Berbagai dampak dapat ditimbulkan dari para korban kejahatan atau kekerasan seksual.  Laporan dari Catatan Tahunan Kekerasan Seksual di Indonesia 2022, yang diterbitkan oleh Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI) Fakultas Hukum Universitas Indonesia, bahwa dampak kekerasan seksual dapat bersifat fisik, psikologis, dan sosial. Dampak fisik dapat berupa luka-luka, infeksi, kehamilan, dan aborsi. Dampak psikologis dapat berupa trauma, depresi, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Dampak sosial dapat berupa putus sekolah, putus hubungan, dan kehilangan pekerjaan.”

Tambahan dari artikel “Trauma dan Dampak Kekerasan Seksual” yang diterbitkan oleh Pusat Krisis Nasional (PKN) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (2023), menjelaskan lebih rinci tentang trauma sebagai dampak psikologis kekerasan seksual. Disebutkan trauma adalah respons emosional yang dapat terjadi setelah mengalami peristiwa traumatis, seperti kekerasan seksual. Trauma dapat menyebabkan berbagai gejala, seperti perasaan takut, cemas, atau waspada; merasa bersalah atau malu; memiliki pikiran atau mimpi buruk tentang peristiwa traumatis; menghindari tempat atau orang yang mengingatkannya pada peristiwa traumatis; mengalami kesulitan tidur atau berkonsentrasi; dan merasa putus asa atau ingin bunuh diri.

Sedangkan pada artikel “Dampak Kekerasan Seksual Terhadap Kesehatan Mental” yang diterbitkan oleh Pusat Studi Hak Asasi Manusia (PSHAM) Universitas Gadjah Mada (2019). Artikel ini menjelaskan tentang dampak kekerasan seksual terhadap kesehatan mental, termasuk gangguan mental, pikiran atau perilaku bunuh diri, depresi, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Gangguan mental ini dapat memperburuk gejala trauma dan membuat korban lebih sulit untuk pulih.

Berdasarkan pemaparan diatas dapat dikategorikan tiga dampak kekerasan seksual. Pertama, dampak psikologis korban kekerasan dan pelecehan seksual akan mengalami trauma yang mendalam, selain itu stres yang dialami korban dapat menganggu fungsi dan perkembangan otaknya.

Kedua, dampak fisik. Kekerasan dan pelecehan seksual pada anak merupakan faktor utama penularan Penyakit Menular Seksual (PMS). Selain itu, korban juga berpotensi mengalami luka internal dan pendarahan. Pada kasus yang parah, kerusakan organ internal dapat terjadi.Dalam beberapa kasus dapat menyebabkan kematian.

Ketiga, dampak sosial. Korban kekerasan dan pelecehan seksual sering dikucilkan dalam kehidupan sosial, hal yang seharusnya dihindari karena korban pastinya butuh motivasi dan dukungan moral untuk bangkit lagi menjalani kehidupannya.

Kompleksitas kasus kekerasan seksual ini membuat penanganannya menjadi lebih sulit. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk mengatasi masalah ini dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kekerasan seksual, memperkuat sistem hukum dan peradilan, serta menyediakan layanan bagi korban kekerasan seksual. Kita harus bersama-sama memerangi kekerasan seksual. Hal ini penting untuk melindungi korban dan menciptakan lingkungan yang aman bagi semua orang.

Jika Anda menemui kasus dan membutuhkan penanganan untuk mengatasi trauma akibat kekerasan seksual, segeri cari bantuan professional dibidangnya. Atau hubungi saya di nomer 0822230862122.

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *